Senja, Dan Berbagai Percakapan

“Rom, liat !!”

“Senjanya bagus banget ya..” –perempatan jakal, disuatu sore-

 

“Coba liat atas deh, rasanya kaya bukan di Indonesia..”

“Iya, ya.. Kaya di Arab..”

“Wahhh.. ada pesawat lewat..”

“Iya.. Itu Pesawat Alien !! Ayo larii !!!” -masjid Syuhada Kotabaru, selepas salat asar-

 

Berbicara tentang senja, mau ga mau emang berkaitan dengan kenangan. Dan 2 percakapan tadi adalah bagian dari kenangan saya akan senja.

Percakapan pertama membekas karena mirip dengan ideal sebuah adegan romantis di film-film.. sepasang laki-laki dan perempuan, naik motor, dan melihat pemandangan yang indah bersama-sama. Walau dalam film lebih banyak tokohnya menggunakan mobil, menurut saya, adegan naik motor itu jauh lebih intim dan lebih romantis.

Percakapan kedua, membekas karena percakapan ini sangat absurd, romantis menurut cara kami, umm, atau, sebut saja cara saya. Romantis, karena pada saat itu kami tenggelam dalam dunia kami berdua, dunia dimana tidak ada orang lain, hanya kami, di ‘arab’, sore itu. Oiya, setelah sore itu, kami sepakat menyebut tempat itu sebagai arab, membuat masjid Syuhada semakin istimewa buat saya.

Selain dengan partner absurd  saya di cerita atas, sepertinya saya lebih banyak menghabiskan senja sendirian.

Di belakang kontrakan, lewat celah jarak 1,5 meter antara genting rumah saya dengan rumah bapak kontrakan, mencoba menikmati indahnya rona senja.

Ditemani segelas teh jeruk resep dari Siper, dua batang gudang garam (yang kadang-kadang bisa jadi berbatang-batang, dan memaksa saya harus bolak-balik ke burjo buat ‘kulakan’ gudang garam ketengan),  mencoba menikmati senja dengan segala kesederhanaanya, kadang dengan diam, terlena dalam indah sinarnya, kadang dengan bercakap-cakap dengan diri sendiri.

Kadang beberapa burung lewat. Membawa angan terbang melayang jauh. Mereka seharian dari mana aja ya?? Nyari makan kali.. makannya apa ya?? Ga tau, mungkin cacing..  Trus, mereka pulangnya kemana ya?? Keluarganya menunggu dirumah, atau pergi juga kaya mereka ya?? Kok terbangnya searah, apa ada aturan lalu-lintasnya ya?? Dan sejuta pertanyaan-pertanyaan usil lainnya.. kadang terjawab, kadang tidak.

Di beberapa kesempatan, jika kondisi langit sedang bagus, dan sinar senja tampak begitu indah, saya mengeluarkan motor dan menyempatkan diri untuk mencari spot yang bagus, mengejar senja..

Fly over Janti sering jadi tempat yang strategis. Sayang trafficnya terlalu cepat dan ramai. Ambience nya kurang dapet.

Sebenernya dari atas gedung Mahera Coffee itu enak banget buat liat senja, sayang kafenya tutup, sekarang ganti salon atau entah apa.

Atau dari stadion Maguwo, itu juga sepertinya strategis. Sayang katanya kalo hari biasa ga dibolehin masuk. Padahal punya cita-cita suatu hari motret sunset atau sunrise sama Mpek disitu. Sepertinya bakal susah terlaksana.

Pernah satu hari senjanya bagus banget, langitnya percampuran antara kuning, oranye, pink, ungu, dan biru tua. Langit kaya kebelah jadi 2 dan Jogja ada di tengah-tengahnya. Sebelah barat matahari masih tampak, sebelah timur sudah gelap, bintang dan bulan kelihatan. Mungkin itu senja terindah dalam hidup saya.

Sekarang udah ga pernah ngeluarin motor, tapi kadang masih suka mengejar senja. Walau kali ini ‘kendaraan’ saya berupa batang-batang besi yang mirip jemuran anduk. Pernah sekali waktu keluar ke halaman rumah, trus mama bilang,

“kamu tu, udah mau magrib, yang lain pada masuk, kamunya malah keluar..”

“abis, itunya juga keluarnya pas udah mau magrib sih..”, sambil nunjuk ke arah langit yang semburat jingga keemasan..

Advertisements

Death, and The Beauty of It

Image

 

Suatu siang yang panas, saya sedang berbelanja kain di daerah Giwangan, Karena sinar matahari yang menyengat dan situasi di dalam toko kain sangat pengap dan antrian masih panjang, saya memutuskan untuk keluar dan membeli minuman. Sebotol air mineral dingin dan sebatang rokok mungkin bisa mengendurkan otot-otot saya yang tegang, pikir saya.

Ketika saya akan kembali masuk ke toko kain, ada sesuatu yang mencuri perhatian saya. 3 orang turis asing yang bersepeda yang melintas mendadak berhenti dan kemudian membicarakan sesuatu. Dari apa yang tampak, mereka sepertinya tertarik dengan kuburan yang terletak di samping toko kain. Beberapa warga lokal sempat mendekat, dan mencoba untuk berkomunikasi, tapi bahasa Inggris mereka kurang begitu baik sehingga si turis tampak kebingungan. Saya pun memberanikan diri untuk berkomunikasi. Saya memperkenalkan diri, dan mencoba menawarkan bantuan. Dari pebincangan singkat, saya jadi tau kalau mereka berasal dari negara yang berbeda, 1 orang laki-laki berasal dari Argentina, 1 orang wanita berasal dari Jerman, dan 1 wanita lain berasal dari Belanda, dan seperti dugaan saya, mereka tertarik dengan kuburan.

Perbincangan selanjutnya diisi dengan pertanyaan-pertanyaan mengenai kuburan. Bagaimana cara orang Jawa memperlakukan orang mati, mengapa batu nisan terbuat dari batu/ kayu, dan apa saja yang tertulis di batu nisan. Saya mencoba menjawab sebisanya.

Di akhir perbincangan, saya memberanikan diri bertanya mengenai alasan mereka tertarik dengan kuburan. Sebuah pertanyaan yang memang mengganggu pikiran saya sejak awal tadi. Dan saya mendapatkan sebuah jawaban yang menarik.

“Kematian adalah sesuatu yang indah, ia merupakan bagian dari kehidupan, sama halnya seperti menikah dan proses hidup lainnya, dan mengetahui bagaimana cara orang-orang di berbagai belahan dunia menyikapinya, itu sesuatu yang menarik buatku.”.

Sebuah jawaban yang tidak pernah terpikirkan oleh saya sebelumnya.

Si Pria Argentina yang saya lupa namanya siapa kemudian bercerita mengenai cara orang-orang di negaranya memperlakukan orang mati, ia bercerita tentang lemari besar, dan rak yang bertumpuk-tumpuk, sesuatu yang tidak begitu saya mengerti saat itu. Setelah selesai, mereka bertiga mengucapkan terimakasih, bertanya ke mana arah ke Prawirotaman, lalu berpamitan. Saya pun kembali melanjutkan niat saya untuk membeli kain.

Kejadian itu sudah cukup lama terjadi, tapi apa yang dikatakan Si Pria Argentina ini masih tergiang jelas di ingatan saya. Menganggap kematian sebagai bagian dari kehidupan tidak pernah terpikir oleh saya, dan mungkin oleh sebagian besar orang lain. Kematian sering disikapi sebagai sesuatu yang mengakhiri kehidupan, tapi kadang kita lupa bahwa ia juga merupakan bagian dari kehidupan ini.

Adalah seniman Sudjiwotejo yang kembali mengingatkan saya akan hal ini. Dalam sebuah kultwitnya, Sudjiwotejo bercerita mengenai pentingnya kita mempersiapkan kematian. Baginya, kematian itu tak kalah pentingnya dengan pernikahan, ia sama pentingnya dan harus dipersiapkan dengan cara yang sama seriusnya, bahkan lebih serius seharusnya. Jika dalam pernikahan kita sibuk mempersiapkan baju khusus seragam keluarga, maka, untuk kematian pun perlu disiapkan baju khusus. Begitu beliau memberi contoh. Sampai titik ini, saya masih hanya bisa terhenyak, tanpa bisa sepenuhnya mengerti akan artinya.

Masih segar dalam ingatan kita, beberapa waktu yang lalu kita dikejutkan oleh berita meninggalnya ustadz Jefri atau yang biasa kita kenal dengan Uje. Sebuah berita yang spesial buat saya, karena pagi itu Uje mengingatkan saya, dan seluruh warga Indonesia, bahwa kematian itu bisa menemui kita kapan saja, dimana saja. Tak peduli siapapun kita, setampan, sekaya, atau seberiman apapun kita, bila waktunya telah tiba, maka tidak seorangpun dapat menghindarinya. Sebuah kematian yang indah, karena, dengan kematiannya, Uje seakan mengajak kita merenungi makna kematian.

Kematian diibaratkan seperti ujian dadakan dalam suatu semester, kita tidak pernah tau apakah ia akan muncul di akhir, di tengah, atau bahkan beberapa saat setelah semester dimulai, sehingga siapapun yang mempersiapkan diri sebaik mungkin sejak awal semester mempunyai kesempatan yang lebih baik intuk mendapat nilai yang bagus. Lagi-lagi ini soal persiapan.

Dengan gambaran ini, maka lengkap sudah potongan puzzle mengenai persiapan kematian ini. Gambaran mengenai pentingnya kita mempersiapkan diri akan kematian kini mulai tampak jelas.

Sakit yang saya alami cukup membuat saya sadar, bahwa alur kehidupan tidak bisa kita tebak. Tikungan atau jurang yang curam bisa saja menanti kita di depan, kita tak pernah tau. Sehingga persiapan yang terbaik memang diperlukan, agar kita tak melihat ke arah masa lalu dengan pandangan penuh penyesalan.

Beberapa kali berada di tempat yang saya kira merupakan ujung dari kehidupan, membuat saya sadar, bahwa banyak sekali hal berharga yang salah kita nilai selama di dunia, dan juga menyadarkan saya betapa saya kurang sekali persiapan dalam menyambut kematian. Saya pernah menangis ketakutan ketika mengira kematian sudah berjarak 5 cm dari muka saya, walau kenyataannya Tuhan berkata lain. Saya masih hidup sampai saat ini untuk menceritakan kisah ini. Pengalaman itu menjadi sebuah paradox, dimana saat-saat terburuk saya sekaligus merupakan saat-saat terbaik dalam hidup saya.

Salah satu scene dalam film One Day On Earth menampilkan seorang gadis Argentina yang mengunjungi makam ibunya. Gambaran visual yang di tampilkan membuat saya mengerti seperti apa wujud pemakaman di Argentina. Pemakaman yang berupa lemari dengan rak-rak besar yang diceritakan oleh Si Pria Argentina di awal tadi. Tapi yang tak kalah menarik adalah penuturan yang dikatakan oleh sang gadis.

“Karena Ibu saya meninggal ketika saya masih kecil, saya biasa ke kuburan bersama ayah setiap hari Minggu untuk memberi bunga. Itu sudah menjadi sebuah kebiasaan bagi kami. Sekarang setelah saya pikirkan, mungkin terdengar menyedihkan, membawa dua anak kecil memetik bunga untuk diberikan pada ibunya yang sudah meninggal. Tapi pada saat itu, hal ini sangat penting bagi kami, ketika kau selesai mengunjungi kuburan dan kembali kerumah, dan semua orang disana membuat Asado, memasak, dan bermain bersama,kau akan menghargai kehidupan dengan cara yang berbeda. Karena kau sudah melihat bagaimana ini akan berakhir dan sekarang kau memiliki seluruh hidupmu, pada hari yang indah ini, dan ini cara yang baik untuk memulai sebuah minggu yang baru ”

So, semoga apa yang saya tulis mampu membuat kita kembali merenungi tentang makna kematian, kembali mengevaluasi sejauh mana kita telah mempersiapkannya, sehingga mampu membuat kita mengawali sebuah minggu yang baru dengan cara pandang yang berbeda terhadap kehidupan.

Tabik !! 🙂

Ruang Dalam Hati

Image

“Mama, ini sudah jam berapa??”

“Sudah jam 2 pagi, makanya kamu harus cepet tidur”

“Aku juga pengennya gitu, Ma.”

Sebuah percakapan yang terjadi di kamar itu sekitar awal November, dimana saat itu adalah awal-awal saya mulai tidak bisa berjalan. Waktu itu, karena sakit, hampir setiap malam saya terjaga sampai hampir semalaman penuh. Menjelang adzan subuh, saya baru bisa memejamkan mata, dan sampai saat itu juga selalu ada yang menemani saya terjaga, entah itu mama, kakek, nenek, atau bibi saya. Berjaga-jaga kalau-kalau ditengah malam saya merintih kesakitan atau membutuhkan sesuatu.

Di kamar itu, saya menghabiskan hampir sebulan menggeletak tak berdaya. Jangankan menjelajah dan berjalan-jalan ke daerah baru seperti yang sering saya lakukan dengan teman-teman, bahkan untuk berjalan ke kamar mandipun saya tak sanggup.

Di kamar itu, kamar yang pengap, karena jendelanya tak pernah dibuka. Pernah ada maling yang mencoba mencongkel jendelanya, sehingga kakek mengunci dan menyegel jendela itu sehingga sulit dibuka. Padahal satu hal yang paling saya senangi adalah menikmati hangat cahaya matahari pagi sambil menghirup segarnya udara pagi yang menerobos melalui jendela.

Di kamar itu, tepat di malam ulang tahunku, bukannya pesta pora atau selamatan, yang ada justru aku yang terkapar dalam kondisi kritis, dengan dikelilingi oleh saudara-saudara yang terus melantunkan surat yasin dan ayat-ayat Al-Qur’an yang lain.

Di kamar ini tangis dari kakek, nenek, mama, dan keluarga yang lain pernah tumpah. Menangisi keadaanku yang tak kunjung membaik. Menangisi saya yang kadang mulai meracau ketika malam mulai tiba.

Di kamar itu, berbagai macam orang pernah datang untuk mencoba mengobati. Dari nenek tukang pijit yang cerewetnya minta ampun, tentara yang bisa merukyah dan mengusir roh-roh halus, bapak-bapak yang mencoba “membersihkan” saya dengan ritual mandi kembang, sampai seorang kakek yang bisa mengeluarkan paku, beling, dan potongan besi dari mulutnya.

Di kamar itu, saya mengajari Cindy dan Reza, dua sepupu saya yang masih kecil, menggambar. Walau dalam keadaan terbaring, dan hasil gambar yang dibuat tidak bisa maksimal, menjadi saksi dua anak kecil ini berkreasi merupakan sebuah kenikmatan tersendiri.

Di kamar itu, Cindy selalu datang setiap pulang sekolah, untuk sekedar mengajak bercanda, bermain atau justru mengejek-ngejek kondisiku yang tidak bisa bergerak banyak. Sebuah ledekan yang bila orang mendengarnya pasti langsung tau kalau maksudnya untuk menghibur dan memotivasi.

Di kamar itu pernah datang banyak saudara, baik yang dari lingkungan sekitar, sampai saudara yang tinggal jauh di daerah lain. Semuanya datang untuk menengok. Sakit yang dialami memang bisa menjadi jembatan penyambung silaturahmi.

Di kamar itu, saya kembali diingatkan bahwa kasih anak sepanjang galah, dan kasih ibu sepanjang jalan itu benar sekali adanya. Mama orang yang paling setia menemani dan juga paling mengerti apa yang anaknya inginkan. Mama pula yang dengan sabar memenuhi semua kebutuhanku, dari makan, sampai mengambilkan pispot untuk kencing.

“Sekarang umurnya berapa??”

“24 Pak..”

“Sakit sudah berapa lama??”

“Sakit sudah 2 bulan terakhir, tapi tidak bisa berjalan baru 2 minggu ini.”

“Sudah hidup 24 tahun, dan baru dikasih sakit selama 2 bulan, bukannya itu sesuatu yang harus disyukuri??”

Percakapan di kamar itu, yang membuat saya sadar, bahwa nikmat yang sudah kita terima itu sangat berlimpah ruah, sehingga mengeluhkan hal kecil tampak menjadi dosa besar karena membuat kita lupa untuk mensyukuri nikmat yang jauh lebih besar daripada penderitaan yang dialami.

Di kamar itu, tersisa sedikit rasa trauma akan apa yang pernah saya alami di dalamnya. Tapi di kamar itu pula saya kembali mengukir kisah manis canda tawa bersama teman-teman dan para sahabat yang datang berkunjung. Terjaga sampai larut malam, bercerita tentang betapa indahnya masa lalu, betapa rumitnya sebuah pola hubungan berjudul cinta, dan menertawakan betapa masih bodohnya diri ini dalam menghadapi kehidupan.

Di kamar itu, sakit yang teramat sangat pernah saya rasakan. Tapi di kamar itu pula, gelak tawa sampai mata berair dan perut sakit pernah terjadi.

Seorang guru pernah berpesan, “Batin yang tercerahkan serupa ruang, ia membiarkan apa saja untuk tumbuh didalamnya, rasa sedih, rasa bahagia, dibiarkan tumbuh, mengalir apa adanya, tugas kita hanya mengamati, mengamati, dan mengamati.”. Mirip seperti kamar itu, yang hanya diam, menjadi saksi setiap pergolakan hidup, kita tidak bisa mencegah rasa sedih datang, tak bisa juga menahan rasa bahagia selamanya, mempersilahkan keduanya masuk sama mulianya sebagai seorang tamu, dan tugas kita adalah melayani keduanya dengan penuh kasih sayang. 🙂

Tabik !!

 

Gratefulness

Image

Gratefulness

“You think it’s just another day in your life??

It’s not just another day, it’s the one day that is given to you.

Today, is given to you.

It’s a gift.

It’s the only gift that you have right now.

And the only appropriate response is gratefulness.”

 

“If you do nothing else but to cultivate that response to the great gift that is unique, and if you learn to response as if you got live your first day in your life and your very last day, then you will have spent this day very well.

Begin by opening your eyes and be surprised that you have eyes you can open.

That incredible a way of collage constantly offered to us for pure enjoyment.”

 

“Look at the sky.

We’re so rarely look at the sky.

We’re so rarely look at how different it is from momment to momment the clouds coming and going.

We just think of the weather.

And if not the weather we don’t think there are many nuances of the weather.

We just think the good weather or bad weather.

This day, right now, has unique weather.

Maybe a kind that never exactly in that form come again.

That formation of clouds in the sky will never be the same that is right now.

Open your eyes, look at that.”

 

“Look at the faces of people whom you meet.

Each one has an incredible story behind their face.

Not only their own story, but the story of their ancestor.”

 

“Open your heart to that incredible gift that civilization gives to us.

We flip a switch and there is electric light, we turn on flush and there is warm water and cold water, and drinkable water.

It’s a gift that millions and millions in the world will never experience.”

 

“This is just afew of enormous number of gift to which we can open our heart.

That so i wish you can open your heart to all this blessings and let them flew through you.

That everyone whom you will meet on this day, will be blessed by you.

Just by your eyes.

By your smile.

By your touch.

Just by your presence.

Let the gratefulness overflow into blessing all arround you.

Then it’ll really be a good day.”

 

Sebuah narasi dari video berjudul “Happiness Revealed” karya Louie Schwartzberg yang saya tonton siang ini menyentuh hati saya dan secara tidak sadar saya dibuatnya menitikan air mata. Video ini menunjukan bahwa dengan sedikit merubah sudut pandang kita akan kehidupan, wajah kehidupan menjadi jauh lebih mendamaikan. Berikut saya coba artikan narasi tadi dalam bahasa Indonesia, semoga makna yang ada di dalamnya bisa semakin terasa.

 

 “ Apakah kau berpikir ini hanyalah sebuah hari biasa dalam hidupmu??

Ini bukanlah hari yang biasa-biasa saja, ini adalah satu hari yang diberikan untukmu.

Hari ini, diberikan padamu.

Ini adalah sebuah berkah.

Ini adalah satu-satunya berkah yang kau punya saat ini.

Dan satu-satunya respon yang pantas adalah rasa berterimakasih.”

 

 “Jika kamu tidak melakukan hal lain selain memupuk respon terhadap berkah yang besar yang unik, dan jika kamu belajar merespon sebagaimana bila kamu menjalani hari ini sebagai hari pertamamu, sekaligus hari terakhirmu, maka kamu akan menghabiskan hari ini dengan sangat baik.

Dimulai dengan membuka mata, dan bersyukur karena dirimu memiliki mata yang dapat melihat.

Kemudian bersyukur atas potongan-potongan gambar yang  luar biasa yang ditawarkan pada kita untuk sebuah kebahagiaan yang murni.”

 

 “Pandanglah langit.

Kita jarang sekali memandang langit

Kita jarang sekali melihat betapa berbedanya awan yang datang dan pergi dari waktu ke waktu.

Kita hanya melihat cuaca, dan ketika kita berbicara tentang cuaca, kita tidak memperhatikan bahwa cuaca memiliki banyak nuansa.

Kita hanya berfikir mengenai cuaca bagus atau cuaca buruk

Hari ini, saat ini, memiliki cuaca yang indah.

Cuaca yang mungkin tidak akan terbentuk sekali lagi.

Formasi awan dilangit tidak akan pernah sama dengan apa yang ada di langit saat ini.

Bukalah matamu, pandanglah itu semua.”

 

 “Lihatlah wajah dari orang-orang yang kau temui.

Setiap dari mereka mempunyai cerita yang mengagumkan dibalik wajah mereka.

Tidak hanya cerita mereka sendiri, tetapi cerita dari leluhur-leluhur mereka semua.”

 

 “Bukalah hatimu pada anugrah luarbiasa yang diberikan oleh civilization.

Kita tinggal menekan tombol, dan nyalalah lampu, kita tinggal membuka keran, maka munculah air hangat dan air dingin, dan air yang bisa langsung diminum.

Sebuah berkah yang tidak pernah dirasakan oleh jutaan saudara kita di tempat lain.”

 

 “Ini hanyalah sebagian kecil dari luarbiasa banyaknya anugrah yang dapat membuka hati kita.

Oleh karena itu saya harap anda bisa membuka mata terhadap semua anugrah tersebut dan membiarkan mereka mengalir kedalam jiwa anda.

Sehingga orang-orang yang bertemu dengan anda hari ini akan merasa terberkahi oleh anda.

Hanya oleh mata anda, oleh senyum anda, oleh sentuhan anda, hanya oleh kehadiran anda.

Biarkanlah rasa bersyukur mengalir menjadi berkah bagi orang-orang disekitar anda.

Maka hari ini akan benar-benar menjadi hari yang indah.”

 

Dengan memiliki pemahaman seperti ini disetiap kali kita terbangun dari tidur, maka kita akan mampu menjalani hari dengan penuh rasa syukur, menjalani hari dengan penuh kesungguhan, dan mampu menghargai setiap hal yang kita miliki.

Dengan pemahaman seperti ini pula, kita bisa merubah rasa syukur yang kita miliki menjadi rangkaian tindakan yang berguna bagi orang lain. Setiap hal yang bisa kita berikan kepada orang lain akan kita berikan dengan hati yang penuh ikhlas. Sebagaimana seorang guru pernah berpesan, “Your life is your true temple”, hidupmu adalah kuil peribadatanmu yang sesungguhnya. Setiap langkah, setiap kata, setiap senyum dan gerakan tubuh akan ditunjukan sebagai wujud dari rasa syukur pada Tuhan. 🙂

 

Semoga bermanfaat.

Tabik !!

 

 

*bagi yang ingi melihat videonya, bisa dilihat disini

An If In Life

Image

“There is always an if in life..”

Kata-kata yang saya baca dari sebuah twit seorang sahabat. Simple, tapi lagi-lagi sesuatu yang simple justru memantik saya untuk merenungi lebih jauh.

An if in life, ‘if’ disini saya artikan sebagai sebuah pengandaian, sebuah kondisi dimana kita membayangkan atau mengharapkan sesuatu terjadi tidak seperti kenyataan atau prediksi. Bisa berarti sebuah pengharapan atau sebuah penyesalan. Dalam hal ini saya akan lebih menekankan pada ‘if’ sebagai penyesalan..

 

Tentu kita pernah sesekali membayangkan “Ah, andai saja dulu aku masuk jurusan ini..” atau “Ah, andai saja dulu aku bisa lebih tegas..”, atau bahkan pada hal kecil seperti “Ah, coba tadi beli sepatunya di toko ini, harganya terpaut 20 ribu, kan lumayan bisa 2 kali makan..”. They are samples of ‘if’ s in our life..

Kalau dihitung, betapa banyak if yang sudah kita ucapkan, tentu saja saya juga ga luput dari hal itu.. Tetapi yang menjadi pertentangan disini adalah, sejak beberapa tahun lalu, saya sudah memutuskan untuk hidup lebih bahagia dengan tidak menyisakan ‘if’ atau penyesalan dalam hidup.

Saya mendoktrin diri saya cukup lama untuk melepaskan apa yang sudah saya lalui. Untuk percaya bahwa setiap pilihan dalam hidup itu punya konsekuensinya masing-masing. Tidak melalui jalan yang kita lalui saat ini tak akan menjamin bahwa kita tidak akan menemukan kesulitan atau tantangan. Menyesali pilihan yang kita buat hanya akan memberatkan kaki kita dalam melangkah, karena kita hanya akan menanggung beban penyesalan.

Sudut pandang seperti ini sangat membantu saya dan terus saya jalani sampai beberapa hari yang lalu saya bermimpi.

Entah karena efek obat flu yang saya minum atau apa, saya tidur di siang bolong, dan mimpi yang saya alami siang itu aneh sekali. Di dalam mimpi itu, saya kembali ke tahun 2008, tepat 5 tahun sebelum hari ini, dan Tuhan memberi saya kesempatan untuk mengulang kembali hidup saya dari titik ini.

Sebagai orang yang mendoktrin diri untuk tidak meninggalkan penyesalan dalam hidup, pada awalnya saya menolak tawaran ini. Apalagi saya percaya dengan apa yang dinamakan The Butterfly Effect, dimana satu perubahan di masa lalu akan mengakibatkan perubahan lain di masa depan. Jadi, jika saya memutuskan untuk menerima tawaran untuk mengulang kembali hidup saya dari tahun 2008, maka saya akan memulai kehidupan yang benar-benar baru, bukan kehidupan 2008-2013 yang pernah saya alami sebelumnya. periode 2008-2013 bukanlah periode yang singkat, selama itu betapa banyak kenangan yang saya buat bersama teman-teman dan sahabat-sahabat saya. Kehilangan semua memori itu dan harus memulai hidup yang baru bersama mereka bukanlah hal yang mudah.

Pada titik ini Tuhan seperti ingin menggoda saya, Dia menawarkan sejenak waktu untuk berpikir sebelum saya akan membuat keputusan akhir nantinya. Dan sayapun kembali berpikir.

Mencoba merenungkan kembali moment-moment yang pernah saya lewati. Persaudaraan yang telah saya jalin dengan teman-teman satu angkatan SMA, reuni-reuni rutin setiap bulan ramadhan, persahabatan baru yang terjalin di kampus, tempat-tempat indah yang pernah saya datangi, orang-orang baik yang saya kenal, Mafia Kubis, senyum anak-anak cerdas itu, gelak tawa para relawan, keasyikan berbuat sesuatu untuk orang lain, semua itu kenangan yang mungkin tidak bisa saya dapatkan kembali jika saya memilih untuk kembali ke masa lalu.

Ingatan kemudian melayang ke masa-masa yang saya habiskan di rumah sakit, masa-masa sakit saya, dari satu oprasi ke oprasi lain, dari satu rumah sakit ke rumah sakit lain, jika saya mengulang hidup saya, mungkin masa-masa ini bisa dihindari. Tapi kemudian sang diri yang ada di dalam kembali mengingatkan, “leave no regret my son, jangan buat hidupmu lebih berat dengan menanggung beban penyesalan..”. Energi negatif yang tadinya sempat hampir menyelimutu saya pun menguap kembali, keteguhan saya untuk tidak menyesal kembali kuat terasa, sampai kemudian beberapa bayangan memori mulai nampak.

beberapa bayangan itu adalah bayangan wajah ibu dan bapak saya yang khawatir ketika melihat saya terbaring tak berdaya, bayangan wajah lelah keluarga terutama nenek dan kakek saya yang rela meluangkan waktunya untuk menunggu saya di rumah sakit, wajah-wajah panik paman dan bibi saya ketika saya merintih kesakitan di tengah malam dan harus segera dibawa ke rumah sakit, wajah orang-orang yang dengan sigap mengangkat saya menuju mobil karena separuh badan saya sudah tidak bisa digerakan. Sungguh betapa banyak orang yang sudah dibuat repot oleh saya saat itu.

Namun bayangan yang paling membuat dada saya sesak adalah tentu saja bayangan wajah kedua orang tua saya. Masih tergambar jelas sekali ekspresi kekhawatiran mama yang menangis sambil memeluk saya erat ketika saya sekarat di malam ulang tahun saya, wajah tegang dan bingung papa dan mama waktu kami berembug apakah saya akan melakukan kemoterapi atau tidak, ekspresi lelah papa waktu menunggui saya semalam suntuk di depan ruang ICU yang penuh nyamuk sementara saya tak sadarkan diri setelah 6 jam operasi punggung, tetes air mama di pelukan papa pada malam terakhir papa di Jakarta karena harus kembali ke Ambon untuk kembali bekerja, dan wajah sabar mama yang hingga saat ini masih harus mengurusi segala keperluan saya dari hal sepele seperti mengambilkan minum sampai memandikan saya.

Ada sebuah rasa pedih yang muncul saat semua bayangan itu muncul. Terasa sekali hutang budi kita pada orang tua begitu besar hingga tidak mungkin saya bisa mengambalikannya. Dan berbagai macam pengandaianpun muncul, andai dulu saya lebih serius dalam studi, atau saya lebih serius dalam menjalankan usaha konveksi saya, andai dulu saya menuruti perintah dokter untuk sesegera mungkin melakukan kemoterapi, andai ini, andai itu..

Ingin sekali merubah setiap ekspresi sedih dan khawatir yang muncul dari wajah papa dan mama tadi menjadi sebuah senyuman, menjadi gelak tawa seperti yang biasa kami lakukan ketika berkumpul, menjadi senyum bangga bahwa anaknya yang paling besar ini menjadi orang yang bisa berprestasi dan berguna bagi lingkungannya. Ingin sekali bisa mewujudkan wajah bahagia itu.

Sampai di titik inilah kemudian saya memutuskan untuk menerima tawaran Tuhan untuk kembali ke tahun 2008. Saya bertekad memulai semuanya kembali, saya bertekad membahagiakan orang-orang yang saya sayangi, i decide to start over and to make the most of it. Dan kemudian saya terbangun.

Bangun dari tidur, saya butuh beberapa menit untuk membaca situasi dan menenangkan diri. Mimpi tadi cukup menguras emosi saya. Setelah beberapa menit mengatur nafas, saya mulai melihat kondisi sekitar, saya masih berada di atas tempat tidur di rumah nenek saya, kaki saya masih terasa berat untuk digerakan dan kepala saya masih botak, pertanda kalau kondisi saya masih sama seperti saat saya sebelum tidur tadi.

Bangun dari mimpi tadi membuat saya sadar akan beberapa hal, pertama, kembali mengulang hidup yang sudah kita lalui adalah sebuah mimpi, kedua, diakui atau tidak, saya masih memiliki penyesalan dalam hidup saya. Dan dititik ini, saya harus mampu berdamai dengan dua kondisi tersebut.

Saya menuliskan cerita ini karena saya ingin berbagi pengalaman yang sudah saya alami. Selain itu, berani menceritakan konflik batin atau pertentangan dalam hidup saya membantu saya untuk bisa lebih cepat menerima kenyataan-kenyataan yang tadinya saya rasa sulit. Dan tentu saja, siapa tau ada pelajaran-pelajaran yang bisa dipetik dari apa yang sudah saya alami.

Dari kejadian ini hal yang saya pelajari adalah mungkin kita tidak bisa mengulang apa yang sudah terjadi dalam hidup, tapi itu bukanlah ujung dari segalanya. Kita masih bisa mengukir kisah atau kenangan baru yang sama indahnya dengan apa yang sudah kita alami. Saya masih bisa berkumpul dengan teman-teman, bercanda bersama keluarga, dan mungkin berbuat sesuatu yang akan membuat kedua orang tua saya bangga.

St. Catherine of Sienna berpesan “Every step of the way to heaven is heaven”, pesannya sama dengan apa yang ingin saya sampaikan. Maknailah setiap langkah dalam hidup, buat setiap sentinya indah dan bermanfaat, tunjukan rasa sayang pada orang-orang yang kau cintai, sayangi mereka sebaik mungkin, tunjukan sebanyak-banyaknya rasa cinta yang kau punya, kejar apa yang menjadi mimpimu sebaik mungkin, sehingga apapun yang kamu lakukan, kamu tidak akan mengalami penyesalan pada akhirnya. Dengan cara pandang seperti ini, maka perjalanan kita menuju surgapun akan sama indahnya dengan surga itu sendiri.

 

Tabik 🙂

Senja Di Batas Masa Studi

“Absurd adalah keindahan yang tidak dimiliki semua orang.” -Dadad-

Tulisan di atas saya kutip dari sebuah twit pemilik akun @d_adad. Sebuah pernyataan yang menurut saya sesuai dengan apa yang akan saya tulis kali ini : sebuah absurditas kehidupan di akhir masa studi.

Jika @skripsit menulis lagu tentang skripsi, saya akan menceritakan tentang geng absurd, geng tunapacar, atau apalah namanya. Sekumpulan mahasiswa sejurusan dan seangkatan di salah satu perguruan tinggi di Jogja.

Berbagai warna menghiasi kehidupan Senja Di Batas Masa Studi, mulai ungunya kenangan mantan, pinknya gebetan atau sepikan baru, kuningnya keceriaan saat kumpul, orange nya kesedihan saat kesepian, dan gelapnya pertanyaan akan nasib skripsi. Semuanya melebur menjadi sebuah percampuran yang absurd. Absurd, yak, setidaknya itu yang kami pilih dalam menjelaskan masa ‘Senja’ kami.

Continue reading