14 langkah Kecil

Sore itu, setelah selesai mandi, kaki ini dengan lemas kuseret keluar dari kamar mandi. Dengan bantuan alat bantu berjalan yang harus kuangkat dalam setiap langkah, perlahan-lahan aku mulai melewati pintu kamar mandi. Satu langkah kaki kanan, satu langkah kaki kiri, angkat alat bantu, letakan selangkah kedepan, langkahkan kaki kanan, langkahkan kaki kiri, angkat alat bantu, demikian seterusnya.
Yup, kaki ini memang sudah hampir satu tahun tidak bisa digerakan dengan sempurna. Terhitung mulai setelah lebaran tahun lalu, sampai saat ini sudah hampir menemui lebaran kembali. Selama itu pula lah, kaki yang dulu siap mengantar saya berpetualang menjelajahi berbagai tempat, kini hanya tergantung lemas seolah tak bernyawa.
Pikiran menerawang, melayang jauh menembus batasan waktu, yup, ketika berada dalam posisi seperti ini, hal yang akan sering anda lakukan adalah berandai dan mengingat-ingat masa lalu. Kembali teringat bagaimana cerita perjalanan ‘petualangan’ pertama saya di Bandung. Saya yang biasanya ke Bandung hanya untuk mengunjungi keluarga, karena ajakan teman saya Dika, kali itu memutuskan untuk mulai menjelajah kota Bandung. Bukan untuk menikmati hawa sejuk Bandung, apalagi untuk memaknai kehidupan, atau mencari sebuah kedewasaan diri, tujuan kami saat itu jauh dari itu. Sebagai anak muda yang masih polos dan sama-sama mempunyai kegemaran di bidang fashion, kami datang ke Bandung dengan tujuan Wisata Distro.
Teringat sekali bagaimana serunya kami yang buta sama sekali soal Bandung harus berkali-kali bertanya pada orang tentang jalur angkot ke tempat tujuan kami, menanyakan dimana letak Distro yang kami cari, makan siang karedok sambil cuci mata di samping sma 3 Bandung, dan bagaimana kami harus berjalan cukup jauh untuk menghemat uang transport. Mungkin itu bukan pertama kalinya saya traveling, tapi itu pertama kalinya saya secara tidak sadar telah menikmati sensasi nikmatnya berpetualang.
Pikiran kembali menerawang, kali ini membawa saya pada memori trip saya ke Karimunjawa. Perjalanan nekad, karena saya dan kawan-kawan naik motor dari Jogja menuju Jepara, tanpa tau jalan, dan belum ada kejelasan mengenai objek tujuan dan akomodasi kami di Karimunjawa. Pokoknya sampai dulu, sisanya bisa diatur nanti, pikir kami.
Dan pepatah yang berkata bahwa “Tuhan bersama para pejalan” itu benar sekali adanya. Di fery menuju Karimun, kami dipertemukan dengan teman satu kampus yang menuju Karimun untuk memancing, kamipun bergabung dengan rombongannya dan patungan menyewa satu rumah nelayan.
Menjelajah pulau demi pulau di Karimun membuat saya sadar, bahwa negara kita memang sangat luas dan indah. Keindahan alam Karimun membuat saya dan teman-teman seperti terhipnotis untuk menyanyikan lagu Rayuan Pulau Kelapa dalam perjalanan kami menuju pulau Cemara Kecil. Sejak moment itu, rasa cinta saya pada tanah air ini semakin terasa, dan dalam hati, saya berjanji akan memberikan apa yang saya bisa sebagai wujud rasa terimakasih saya atas keindahan alam Indonesia. Inilah pertama kali saya merasakan bahwa sebuah perjalanan tak melulu soal senang-senang, ada proses pendewasaan didalamnya.
Semenjak saat itu, saya secara pribadi banyak mengalami perubahan secara mental. Saya yang dulunya apatis, kini mulai mau ikut bergerak dalam kegiatan voluntary. Membantu korban bencana Merapi dan membuat sebuah program pendampingan belajar menjadi sebuah kegiatan baru yang mengasyikan buat saya. Ada semacam kebahagiaan yang saya peroleh ketika saya melakukannya. Kebahagiaan yang sebelumnya saya pikir tidak pernah ada.
Selain perubahan mental sosial tersebut, cara pandang saya terhadap sebuah objek pun banyak berubah. Kota Magelang yang tadinya hanya saya anggap sebagai kota biasa, kini menjadi sebuah kitab sejarah yang menunggu untuk dipelajari setiap sudutnya. Jalanan kota Magelang-Jogja yang tadinya hanya hamparan aspal, kini secara sengaja saya nikmati pemandangannya. Tak jarang saya menyengajakan berangkat setelah subuh hanya agar bisa menikmati sunrise dan hawa sejuk Magelang di pagi hari. Atau dengan sengaja mengambil jalur alternatif melalui Mendut dan pelosok Muntilan, untuk menikmati hijaunya hamparan sawah. Jalur-jalur yang tadinya biasa saya lewati begitu saja, kini menjadi sangat spesial ketika saya dengan sadar berusaha menikmatinya.

Kehilangan kemampuan untuk berjalan, adalah momok bagi siapapun yang telah mengetahui dan merasakan nikmatnya melakukan sebuah perjalanan. Rasanya tentu akan serupa dengan seorang nelayan yang kehilangan jaringnya, atau petani yang kehilangan cangkulnya. Tapi jaring dan cangkul masih bisa dibeli, sementara kemampuan berjalan tentu saja tidak.
Masih teringat segar bagaimana saya mulai kehilangan kemampuan kaki saya, dari mulai kesemutan yang terasa di ujung jari, kemudian merambat ke telapak kaki, kemudian sampai ke mata kaki, kemudian dari ujung jari sampai mata kaki saya tidak bisa digerakan, menyusul dari mata kaki hingga lutut saya terasa lemas, sampai puncaknya adalah ketika saya tidak bisa menggerakan ujung jari hingga pangkal paha saya. Saat itu, untuk merubah posisi tidur saja, saya harus minta bantuan mama untuk mengangkat dan menggeser kaki saya.
Rasa sedih, dan penyesalan sempat hinggap pada diri saya. Membuat saya sedikit menjauhi pergaulan dengan teman-teman. Saya tidak mau mereka melihat saya dalam kondisi yang menyedihkan seperti ini. Tapi, beruntungnya saya, dikelilingi oleh orang-orang luar biasa yang selalu mendampingi dan memberikan support yang tidak ada habisnya. Perlahan tapi pasti, saya pun mulai belajar menerima keadaan, dan berusaha menghadapinya dengan lapang dada.
Secara tidak langsung, hobi melakukan perjalanan juga banyak membantu saya dalam menghadapi masa-masa sulit saya. Kebiasaan menikmati keadaan yang terasah oleh traveling membuat saya mampu melihat berbagai sisi positif atas apa yang terjadi. Ketika dirawat di RS Dustira Cimahi, saya menganggap ini sebagai wisata sejarah, karena RS ini memang peninggalan Belanda, dan juga saya dulu lahir di RS ini. Ini jadi semacam trip kembali ke masa lalu bagi saya. Ketika harus di evakuasi ke RSPAD Gatot Subroto Jakarta, saya menganggapnya sebagai pengalaman pertama berpergian menggunakan Ambulance. Jiwa petualang seakan sudah terintegrasi kedalam alam bawah sadar saya, sehingga setiap gerakan saya sikapi sebagai sebuah petualangan yang menantang yang menantang, mengasyikan, dan membawa pendewasaan dalam diri. Dengan sikap mental seperti ini, walau tubuh tetap merasakan sakit, tapi batin tidak merasa tersiksa. Semua yang terjadi dihadapi dengan senyum penuh ketulusan.

Sore itu, entah karena seharian berbaring di tempat tidur, atau karena terlena dengan nikmatnya guyuran air hangat saat mandi tadi, badan ini terasa lemas sekali. Tangan ini enggan sekali rasanya harus berkali-kali mengangkat alat bantu berjalan. Ingin sekali rasanya langsung berlari ke kamar untuk kemudian berbaring di atas kasur empuk itu. Tanpa sadar, saya mempercepat langkah kaki, satu, dua, tiga, empat. Eh??? Empat langkah??? Saya terkejut, tidak percaya atas apa yang baru saja terjadi. “Pah, coba liatin deh..”, saya berkata pada papa saya, meminta beliau untuk memperhatikan saya berjalan, kemudian saya angkat alat bantu jalan, menahannya supaya tetap menggantung, dan mencoba melangkah. “satu, dua, tiga, empat..” , papa saya coba menghitung langkah yang saya buat. “..lima.. enam.. tujuh.. delapan.. sembilan.. sepuluh..”, langkah saya pun terhenti. Saya sudah mencapai depan pintu kamar saya. Alat bantu jalan saya turunkan, kedua tangan saya mengepal saya angkat ke udara diiringi oleh sorak sorai keluarga saya.
Saya masih tidak berkata-kata, selesai melakukan selebrasi, saya melanjutkan ‘perjalanan’ saya dari pintu kamar menuju kasur, kemudian tergeletak. Lemas, nafas memburu, dan batin masih terkejut, tak percaya atas apa yang baru saja terjadi, 14 langkah yang emosional. Sampai saat ini pun saya masih sulit menjelaskan apa yang saya rasakan saat itu dengan kata-kata. Yang pasti, itu salah satu perasaan terindah yang pernah saya rasakan.
Sore itu, langit sedikit mendung, angin sore berhembus dingin, dan daun-daun tampak bergoyang tertiup angin. Semuanya biasa saja, tapi ada satu yang membuatnya luar biasa, saya berjalan untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan ‘lumpuh’.
Sore itu, sebuah petualangan baru telah dimuali, petualangan yang akan membawa tak hanya sebuah sudut pandang baru, tapi tingkat kematangan jiwa yang baru.
Ini ceritaku.. Apa ceritamu??