How Art Save Me (And Maybe Saving You Too)

Semenjak sakit, intensitas kegiatan saya memang menurun drastis, dari tipikal manusia yang get in and go dalam hal pulang kerumah, menjadi tipikal home boy, yang seharian bener-bener ada dirumah. Kondisi fisik saya memang tidak memungkinkan untuk  melakukan kegiatan yang berat ataupun melakukan mobilitas yang tinggi. Kegiatan sehari-hari saya hanya tidur, makan, nonton film, baca buku, dan nongkrong di halaman rumah, menikmati matahari pagi sambil mengudap gorengan dan teh hangat. Sangat selo dan cukup bisa membuat teman-teman pekerja kantoran iri pada saya.

Salah satu sisi indah dari sakit yang saya alami adalah berlimpahnya waktu yang saya punya untuk bisa berinteraksi, baik dengan keluarga, yang selama ini lebih sering saya tinggalkan, maupun dengan diri sendiri, yang berupa proses panjang perenungan dan dialog dalam diri. Suatu keberlimpahan yang mungkin bila kondisi badan saya normal, akan langsung saya tukar dengan kesempatan untuk traveling, kegiatan voluntary, wirausaha, dan sejuta kegiatan lainnya yang biasa saya lakukan ketika masih sehat.

Menjadi “pengangguran” selain memiliki sisi ‘menyenangkan’ karena tersedia lebih banyak waktu untuk bermalas-malasan di kasur, juga memiliki sisi yang ‘menyebalkan’ karena kadang ada pikiran-pikiran negatif yang mengganggu, disaat teman-teman lain sedang bertarung demi masa depan mereka, saya hanya terduduk diam, menikmati pagi. Disaat yang lain sedang saling kejar-mengejar di suatu titik entah dimana, saya masih saja berdiam diri disini, menikmati pagi. Pikiran-pikiran seperti ini walau terlihat sepele tapi berpotensi menimbulkan bibit-bibit stress yang membahayakan.

Suatu pagi, badan ini rasanya malas sekali, sehingga saya memutuskan untuk tinggal di tempat tidur lebih lama, dam memilih melewatkan sesi menikmati pagi yang biasa saya lakukan. Setelah bosan tidur-tiduran, saya terduduk dan menyalakan laptop, membuka folder-folder lama, melihat koleksi foto-foto. Terbayang kembali moment-moment ketika badan ini ‘masih sempurna’. Foto demi foto membawa saya pada ingatan masa lalu, semuanya tampak jauh lebih indah dibanding saat ini.

Sampai pada satu foto, saya terhenti dan tergoda untuk mengamati foto itu lebih seksama. Entah kenapa, jari-jari ini tergerak untuk mengambil buku dan menggambar sketsa dari foto tersebut.

Buku yang saya ambil adalah buku notebook polos pemberian seorang sahabat. Semenjak sakit, memang saya banyak menggunakan buku itu sebagai media untuk mengekspresikan ide, cerita, ataupun pemikiran-pemikiran yang saya dapat. Sehingga, ketika ada apapun yang terlintas dikepala, saya segera mencatatnya di buku itu.

Setelah asik corat-coret sana sini selama beberapa menit, saya sedikit terkejut dengan hasil yang saya capai. Memang masih jauh dari kata mirip, tapi saya merasa asik, dan puas dengan hasil yang saya dapat.

Dari situlah muncul ketertarikan, saya mulai mencoba untuk mencari tahu mengenai dunia menggambar. Saya browsing dengan keyword sketching, dan munculah beberapa situs yang memang share mengenai teknik-teknik dalam menggambar. Situs demi situs saya jelajahi, persis seorang anak kecil yang menjelajahi seluruh permainan yang ada di taman bermain. Excited, dan full of curiousity.

Semakin hari, rasa ketertarikan pun semakin besar, setiap hari mencari objek yang bisa digambar, kemudian berkarya.hasil tak selalu bagus, tapi ada pembelajaran dalam setiap prosesnya.

Dan satu hal yang saya (telat) sadari adalah bahwa menggambar itu ternyata sangat menyenangkan. Saya secara tidak sadar telah dibuat terlarut khusyuk dalam setiap goresan pensil. Berusaha memberikan yang terbaik dalam membentuk sebuah garis lengkung, atau konsentrasi membuat arsiran yang halus. Dan ketika melihat hasil yang dibuat, ada rasa bangga, dan kagum, juga kaget. Gak nyangka bisa bikin karya seperti ini.

Apa yang saya buat mungkin adalah sebuah karya yang biasa saja bagi orang lain, tapi, bagi saya yang sejak kecil merasa tidak pernah mempunyai bakat seni, bisa membuat karya seperti itu adalah sebuah masterpiece. Ada rasa bangga yang timbul, dan setelah saya renungi lebih jauh, menggambar mampu membuat diri saja merasa jauh lebih baik.

Rasa asik ketika membentuk garis atau arsiran, rasa bangga ketika melihat hasil, dan rasa penasaran untuk bisa terus berkembang menjadi candu tersendiri. Cris Burkhard, seorang fotografer pernah berpesan “if you put yourself in the right direction, your work can really make you grow, make you a better person”, dan saya merasakan itu dalam menggambar.

Menggambar, atau sketching secara lebih spesifik, seperti memberi saya ruang untuk berkreasi, dan memenuhi pikiran saya sehingga pikiran-pikiran negatif tak lagi memiliki tempat untuk singgah. Kalaupun singgah, menggambar telah menimbulkan rasa percaya diri dan optimis dalam diri saya, sehingga pikiran-pikiran negatif tadi hanya lewat saja tanpa sempat mampir terlalu lama.

Dalam beberapa hari, halaman notebook saya sudah terisi oleh banyak sketsa, dalam sehari, bisa membuat 2 sampai 3 sketsa. Kadang tanpa sadar telah menghabiskan beberapa jam asik mengarsir atau membentuk kontur. Sementara beberapa jam sisanya dihabiskan untuk mendownload video-video tutorial menggambar, ataupun video tentang para seniman dan karya-karya mereka. Melihat seseorang melakukan apa yang menjadi passionnya, selalu membuat saya excited. Tanpa sadar, koleksi video yang saya download sudah mencapai 3,5 giga.

Dan dari banyak video yang saya download, ada salah satu video yang berjudul Sketchbook Tour 2011. Di video tersebut (lihat disini), diperlihatkan orang yang sedang ramai mengunjungi sebuah perpustakaan yang berisi penuh sketchbook. Isi dari setiap sketchbook yang diperlihatkan sangat beragam dan menarik bagi saya. Setiap buku seperti menjadi cerminan dari si pembuat, dan menjadi sarana mereka untuk mencurahkan kreativitas. Sungguh beragam, dan sangat kreatif.

Apa yang saya lihat membuat saya tersadar, bahwa bangsa kita sama sekali jauh dari seni. Seni, dan berbagai kreativitas didalamnya, hanya dianggap sebagai second-class subject. Mata pelajaran yang tak banyak berguna bagi masa depan. Sistem pendidikan di Indonesia memang masih kaku, dan hanya condong ke pengembangan otak kiri saja, sehingga hal-hal yang berkaitan dengan otak kanan masih di nomor duakan.

Pembiasaan diri akan seni tidak ditekankan, dan hanya pelajaran-pelajaran yang diujikan di UN saja yang diberi penekanan. Menguasai mata pelajaran seni tetapi tidak begitu menguasai mata pelajaran UN akan dikategorikan sebagai anak bodoh, dan berpotensi menerima kucilan dari guru, lingkungan sekolah, maupun masyarakat. Seni sebagai media pendekatan terhadap suatu pembelajaran tidak pernah diperhitungkan, sehingga murid dipaksa mengetahui sesuatu dengan menghapal, bukan memahami, atau merasakan.

Melihat fenomena ini, dan dengan berbekal fakta bahwa seni telah membuat saya merasa lebih baik, kemudia terbesit sebuah ide, “kenapa gak ngajakin orang lain untuk membiasakan berseni?? Bikin project sketchbook sendiri?? Ajakin makin banyak orang buat menemukan dan mengalami proses pembelajaran seni mereka sendiri??”

Seorang desainer grafis di Amerika membuat sebuah gerakan bernama Make Something Cool Everyday, dimana dia akan mengharuskan dirinya membuat sesuatu setiap harinya. Tidak harus sesuatu yang besar, cukup sebuah karya, apa saja, bisa hanya coret-coretan iseng, atau sketsa, atau gambar digital, dan mendokumentasikannya untuk kemudian di share ke orang lain. Ide ini kemudian berkembang, setiap harinya ada semakin banyak orang yang ikut berusaha membuat sebuah karya.

Ide ini menarik, karena dengan mengharuskan diri kita membuat sesuatu, maka kita akan ‘dipaksa’ meluangkan waktu dan pikiran untuk menciptakan sesuatu. Dengan menciptakan sesuatu setiap hari, bagi saya, rasanya seperti menyusuri sebuah jalan setapak, mungkin kita tidak tau itu akan mengarah kemana, tapi setiap langkah tentu akan membawa kita menuju sebuah petualangan baru yang mengasyikan. Mungkin di tengah jalan, kita akan menemukan satu atau dua kerikil, atau semak-semak hambatan, tapi dengan antusias yang cukup, kita akan mau menggali, melompat, memotong, atau mungkin membakar sesuatu dan menemukan jalan keluarnya. Dan sebagai bonus, siapa tau jalan setapak itu ternyata menuntun kita pada sebuah pantai yang indah 🙂

So, if you find this interesting, please share this idea to people who might be as interested as you are, the more people join, the more interesting it gets, and i’m open to  other interesting ideas about how to run this project, so, if you have one, please give me feed back on email : shiromdhona@gmail.com or twitter on @shiromdhona

 

waiting forward 🙂

Advertisements

One thought on “How Art Save Me (And Maybe Saving You Too)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s