How Art Save Me (And Maybe Saving You Too)

Semenjak sakit, intensitas kegiatan saya memang menurun drastis, dari tipikal manusia yang get in and go dalam hal pulang kerumah, menjadi tipikal home boy, yang seharian bener-bener ada dirumah. Kondisi fisik saya memang tidak memungkinkan untuk  melakukan kegiatan yang berat ataupun melakukan mobilitas yang tinggi. Kegiatan sehari-hari saya hanya tidur, makan, nonton film, baca buku, dan nongkrong di halaman rumah, menikmati matahari pagi sambil mengudap gorengan dan teh hangat. Sangat selo dan cukup bisa membuat teman-teman pekerja kantoran iri pada saya.

Salah satu sisi indah dari sakit yang saya alami adalah berlimpahnya waktu yang saya punya untuk bisa berinteraksi, baik dengan keluarga, yang selama ini lebih sering saya tinggalkan, maupun dengan diri sendiri, yang berupa proses panjang perenungan dan dialog dalam diri. Suatu keberlimpahan yang mungkin bila kondisi badan saya normal, akan langsung saya tukar dengan kesempatan untuk traveling, kegiatan voluntary, wirausaha, dan sejuta kegiatan lainnya yang biasa saya lakukan ketika masih sehat.

Menjadi “pengangguran” selain memiliki sisi ‘menyenangkan’ karena tersedia lebih banyak waktu untuk bermalas-malasan di kasur, juga memiliki sisi yang ‘menyebalkan’ karena kadang ada pikiran-pikiran negatif yang mengganggu, disaat teman-teman lain sedang bertarung demi masa depan mereka, saya hanya terduduk diam, menikmati pagi. Disaat yang lain sedang saling kejar-mengejar di suatu titik entah dimana, saya masih saja berdiam diri disini, menikmati pagi. Pikiran-pikiran seperti ini walau terlihat sepele tapi berpotensi menimbulkan bibit-bibit stress yang membahayakan.

Suatu pagi, badan ini rasanya malas sekali, sehingga saya memutuskan untuk tinggal di tempat tidur lebih lama, dam memilih melewatkan sesi menikmati pagi yang biasa saya lakukan. Setelah bosan tidur-tiduran, saya terduduk dan menyalakan laptop, membuka folder-folder lama, melihat koleksi foto-foto. Terbayang kembali moment-moment ketika badan ini ‘masih sempurna’. Foto demi foto membawa saya pada ingatan masa lalu, semuanya tampak jauh lebih indah dibanding saat ini.

Sampai pada satu foto, saya terhenti dan tergoda untuk mengamati foto itu lebih seksama. Entah kenapa, jari-jari ini tergerak untuk mengambil buku dan menggambar sketsa dari foto tersebut.

Buku yang saya ambil adalah buku notebook polos pemberian seorang sahabat. Semenjak sakit, memang saya banyak menggunakan buku itu sebagai media untuk mengekspresikan ide, cerita, ataupun pemikiran-pemikiran yang saya dapat. Sehingga, ketika ada apapun yang terlintas dikepala, saya segera mencatatnya di buku itu.

Setelah asik corat-coret sana sini selama beberapa menit, saya sedikit terkejut dengan hasil yang saya capai. Memang masih jauh dari kata mirip, tapi saya merasa asik, dan puas dengan hasil yang saya dapat.

Dari situlah muncul ketertarikan, saya mulai mencoba untuk mencari tahu mengenai dunia menggambar. Saya browsing dengan keyword sketching, dan munculah beberapa situs yang memang share mengenai teknik-teknik dalam menggambar. Situs demi situs saya jelajahi, persis seorang anak kecil yang menjelajahi seluruh permainan yang ada di taman bermain. Excited, dan full of curiousity.

Semakin hari, rasa ketertarikan pun semakin besar, setiap hari mencari objek yang bisa digambar, kemudian berkarya.hasil tak selalu bagus, tapi ada pembelajaran dalam setiap prosesnya.

Dan satu hal yang saya (telat) sadari adalah bahwa menggambar itu ternyata sangat menyenangkan. Saya secara tidak sadar telah dibuat terlarut khusyuk dalam setiap goresan pensil. Berusaha memberikan yang terbaik dalam membentuk sebuah garis lengkung, atau konsentrasi membuat arsiran yang halus. Dan ketika melihat hasil yang dibuat, ada rasa bangga, dan kagum, juga kaget. Gak nyangka bisa bikin karya seperti ini.

Apa yang saya buat mungkin adalah sebuah karya yang biasa saja bagi orang lain, tapi, bagi saya yang sejak kecil merasa tidak pernah mempunyai bakat seni, bisa membuat karya seperti itu adalah sebuah masterpiece. Ada rasa bangga yang timbul, dan setelah saya renungi lebih jauh, menggambar mampu membuat diri saja merasa jauh lebih baik.

Rasa asik ketika membentuk garis atau arsiran, rasa bangga ketika melihat hasil, dan rasa penasaran untuk bisa terus berkembang menjadi candu tersendiri. Cris Burkhard, seorang fotografer pernah berpesan “if you put yourself in the right direction, your work can really make you grow, make you a better person”, dan saya merasakan itu dalam menggambar.

Menggambar, atau sketching secara lebih spesifik, seperti memberi saya ruang untuk berkreasi, dan memenuhi pikiran saya sehingga pikiran-pikiran negatif tak lagi memiliki tempat untuk singgah. Kalaupun singgah, menggambar telah menimbulkan rasa percaya diri dan optimis dalam diri saya, sehingga pikiran-pikiran negatif tadi hanya lewat saja tanpa sempat mampir terlalu lama.

Dalam beberapa hari, halaman notebook saya sudah terisi oleh banyak sketsa, dalam sehari, bisa membuat 2 sampai 3 sketsa. Kadang tanpa sadar telah menghabiskan beberapa jam asik mengarsir atau membentuk kontur. Sementara beberapa jam sisanya dihabiskan untuk mendownload video-video tutorial menggambar, ataupun video tentang para seniman dan karya-karya mereka. Melihat seseorang melakukan apa yang menjadi passionnya, selalu membuat saya excited. Tanpa sadar, koleksi video yang saya download sudah mencapai 3,5 giga.

Dan dari banyak video yang saya download, ada salah satu video yang berjudul Sketchbook Tour 2011. Di video tersebut (lihat disini), diperlihatkan orang yang sedang ramai mengunjungi sebuah perpustakaan yang berisi penuh sketchbook. Isi dari setiap sketchbook yang diperlihatkan sangat beragam dan menarik bagi saya. Setiap buku seperti menjadi cerminan dari si pembuat, dan menjadi sarana mereka untuk mencurahkan kreativitas. Sungguh beragam, dan sangat kreatif.

Apa yang saya lihat membuat saya tersadar, bahwa bangsa kita sama sekali jauh dari seni. Seni, dan berbagai kreativitas didalamnya, hanya dianggap sebagai second-class subject. Mata pelajaran yang tak banyak berguna bagi masa depan. Sistem pendidikan di Indonesia memang masih kaku, dan hanya condong ke pengembangan otak kiri saja, sehingga hal-hal yang berkaitan dengan otak kanan masih di nomor duakan.

Pembiasaan diri akan seni tidak ditekankan, dan hanya pelajaran-pelajaran yang diujikan di UN saja yang diberi penekanan. Menguasai mata pelajaran seni tetapi tidak begitu menguasai mata pelajaran UN akan dikategorikan sebagai anak bodoh, dan berpotensi menerima kucilan dari guru, lingkungan sekolah, maupun masyarakat. Seni sebagai media pendekatan terhadap suatu pembelajaran tidak pernah diperhitungkan, sehingga murid dipaksa mengetahui sesuatu dengan menghapal, bukan memahami, atau merasakan.

Melihat fenomena ini, dan dengan berbekal fakta bahwa seni telah membuat saya merasa lebih baik, kemudia terbesit sebuah ide, “kenapa gak ngajakin orang lain untuk membiasakan berseni?? Bikin project sketchbook sendiri?? Ajakin makin banyak orang buat menemukan dan mengalami proses pembelajaran seni mereka sendiri??”

Seorang desainer grafis di Amerika membuat sebuah gerakan bernama Make Something Cool Everyday, dimana dia akan mengharuskan dirinya membuat sesuatu setiap harinya. Tidak harus sesuatu yang besar, cukup sebuah karya, apa saja, bisa hanya coret-coretan iseng, atau sketsa, atau gambar digital, dan mendokumentasikannya untuk kemudian di share ke orang lain. Ide ini kemudian berkembang, setiap harinya ada semakin banyak orang yang ikut berusaha membuat sebuah karya.

Ide ini menarik, karena dengan mengharuskan diri kita membuat sesuatu, maka kita akan ‘dipaksa’ meluangkan waktu dan pikiran untuk menciptakan sesuatu. Dengan menciptakan sesuatu setiap hari, bagi saya, rasanya seperti menyusuri sebuah jalan setapak, mungkin kita tidak tau itu akan mengarah kemana, tapi setiap langkah tentu akan membawa kita menuju sebuah petualangan baru yang mengasyikan. Mungkin di tengah jalan, kita akan menemukan satu atau dua kerikil, atau semak-semak hambatan, tapi dengan antusias yang cukup, kita akan mau menggali, melompat, memotong, atau mungkin membakar sesuatu dan menemukan jalan keluarnya. Dan sebagai bonus, siapa tau jalan setapak itu ternyata menuntun kita pada sebuah pantai yang indah 🙂

So, if you find this interesting, please share this idea to people who might be as interested as you are, the more people join, the more interesting it gets, and i’m open to  other interesting ideas about how to run this project, so, if you have one, please give me feed back on email : shiromdhona@gmail.com or twitter on @shiromdhona

 

waiting forward 🙂

Advertisements

Luka

“Seindah Apakah Luka Anda??

Beberapa hari belakangan sempat beberapa kali mendengar kata ini disebut. Entah apa, ada sesuatu yang membuat saya memikirkan kata itu. Kata yang sering sekali diucapkan saat patah hati, saat disakiti, ataupun dikecewakan orang lain. Kata yang identik dengan musibah, entah itu goresan kecil di kulit yang menimbulkan pendarahan, ataupun luka yang kata orang jauh lebih menyakitkan dan sulit sembuh bernama ‘luka hati’.
Sampai suatu pagi saya tertegun saat mandi dan melihat ada sesuatu di perut saya : luka bekas jahitan. Luka yang saya dapat dari operasi pengangkatan tumor dari perut saya. Di malam sebelumnya sempat terjadi percakapan dengan seorang sahabat yang juga mengalami operasi di saat yang hampir bersamaan dan dengan kasus yang hampir mirip, kurang lebih begini isinya.
‘Jhon, gimana perutmu???masih sakit???’
‘Alhamdulillah ngga..Nggonmu piye???’
‘Sama, punyaku juga ngga..’
‘Yo sukur kl gitu..’
‘Oiyo, punyamu ada bekas lukanya ga???’
‘Ada ki,,nggonmu???’
‘Nggonku yo ono ki.. (T.T)’
‘Hehe..
Tenang,rapopo kok..hanya mengurangi estetika tok,sg pntg sehat jasmani n rohani,hehe :-D’
‘Iyo,,malah apik sih,,di perutku jadi ada bulan sabitnya..’
‘Haha,,asal ojo bulan sabit karo palu wae..’
Sebuah ironi, bahwa luka yang identik dengan musibah, dalam kasus saya malah menjadi berkah. Bayangkan kalau luka itu tidak pernah ada, mungkin gumpalan daging penuh racun itu masih ada dalam tubuh saya.
Luka memang menyakitkan, saya pun tak menyangkal, karena buat saya berhari-hari tidak bisa bangun karena luka di perut masih basah itu sangat tidak mengenakan.
Saya sendiri juga pernah mengalami ‘Luka Hati’, yang mana karena luka itu saya harus tersiksa memikul dendam selama kurang lebih satu tahun. Luka juga menimbulkan bekas yang sulit hilang, bahkan mungkin itu akan melekat dengan kita seumur hidup. Tapi, ketika saya akhirnya memutuskan untuk memaafkan dan melepaskan semua dendam, rasa benci, amarah, kecewa, dan mulai menerima kenyataan, saya merasa seperti melepaskan beban berat yang selama ini selalu saya pikul kemanapun saya pergi, ada semacam ruang kosong dihati setelah ia dipenuhi oleh rasa benci dan perasaan-perasaan negatif lainnya, yang mana itu menimbulkan sensasi ‘kelegaan’ yang tidak bisa saya deskripsikan dengan kata-kata. Pada titik ini saya menjadi terbuka, dan dari hati yang tadinya mengucap ribuan kata maki, kini berbahagia dengan satu ucapan syukur, syukur atas semua yang terjadi pada saya. Karena terluka tanpa sadar telah membuat saya termotivasi dan mengantarkan saya pada beberapa pencapaian dalam hidup.
Sehingga setelah bercermin pada kejadian yang saya alami dalam hidup, saya sampai pada pemahaman bahwa ”Luka adalah proses ‘pensucian’, proses transformasi dan pembersihan hati, proses evaluasi, proses dimana kita dibawa pada tingkatan yang lebih tinggi, proses untuk melepaskan yang ada, untuk kemudian mengisinya dengan hal-hal baru”. Bukankah jika kulit kita tergores dan mengeluarkan darah, tubuh langsung meresponnya dengan membentuk sel-sel baru??? Seperti itu pula lah proses yang terjadi dalam luka hati kita. Namun, kadang diri ini yang sering keras kepala dan memilih untuk memendam luka, padahal, tanpa melakukan apapun, tubuh akan dengan sendirinya menyembuhkan luka tersebut. Tinggal kita yang harus rela melepaskan ego dan membiarkan tubuh ini mengalir dan menjalankan prosesnya. Dan disaat hal itu bisa kita lakukan, maka, bekas luka pun tidak lagi perlu dihilangkan, bahkan dia akan tampak sebagai hiasan bagi tubuh, sebuah bagian yang memiliki nilai sejarah, dan sebagai penanda bahwa kita telah melewati satu fase kehidupan berjudul ‘Luka’.

Bekas Luka saya secantik Bulan Sabit, secantik apakah bekas luka anda??? 🙂 ”

Repost dari tulisan lama saya di note FB..
Sekarang luka ditubuh saya sudah bertambah satu, dan merupakan luka terbesar yang pernah saya alami..
Dan seiring bertambahnya luka, bertambah pula proses pendalaman jiwa dan pelajaran hidup yang saya alami.. 🙂

Senja, Dan Berbagai Percakapan

“Rom, liat !!”

“Senjanya bagus banget ya..” –perempatan jakal, disuatu sore-

 

“Coba liat atas deh, rasanya kaya bukan di Indonesia..”

“Iya, ya.. Kaya di Arab..”

“Wahhh.. ada pesawat lewat..”

“Iya.. Itu Pesawat Alien !! Ayo larii !!!” -masjid Syuhada Kotabaru, selepas salat asar-

 

Berbicara tentang senja, mau ga mau emang berkaitan dengan kenangan. Dan 2 percakapan tadi adalah bagian dari kenangan saya akan senja.

Percakapan pertama membekas karena mirip dengan ideal sebuah adegan romantis di film-film.. sepasang laki-laki dan perempuan, naik motor, dan melihat pemandangan yang indah bersama-sama. Walau dalam film lebih banyak tokohnya menggunakan mobil, menurut saya, adegan naik motor itu jauh lebih intim dan lebih romantis.

Percakapan kedua, membekas karena percakapan ini sangat absurd, romantis menurut cara kami, umm, atau, sebut saja cara saya. Romantis, karena pada saat itu kami tenggelam dalam dunia kami berdua, dunia dimana tidak ada orang lain, hanya kami, di ‘arab’, sore itu. Oiya, setelah sore itu, kami sepakat menyebut tempat itu sebagai arab, membuat masjid Syuhada semakin istimewa buat saya.

Selain dengan partner absurd  saya di cerita atas, sepertinya saya lebih banyak menghabiskan senja sendirian.

Di belakang kontrakan, lewat celah jarak 1,5 meter antara genting rumah saya dengan rumah bapak kontrakan, mencoba menikmati indahnya rona senja.

Ditemani segelas teh jeruk resep dari Siper, dua batang gudang garam (yang kadang-kadang bisa jadi berbatang-batang, dan memaksa saya harus bolak-balik ke burjo buat ‘kulakan’ gudang garam ketengan),  mencoba menikmati senja dengan segala kesederhanaanya, kadang dengan diam, terlena dalam indah sinarnya, kadang dengan bercakap-cakap dengan diri sendiri.

Kadang beberapa burung lewat. Membawa angan terbang melayang jauh. Mereka seharian dari mana aja ya?? Nyari makan kali.. makannya apa ya?? Ga tau, mungkin cacing..  Trus, mereka pulangnya kemana ya?? Keluarganya menunggu dirumah, atau pergi juga kaya mereka ya?? Kok terbangnya searah, apa ada aturan lalu-lintasnya ya?? Dan sejuta pertanyaan-pertanyaan usil lainnya.. kadang terjawab, kadang tidak.

Di beberapa kesempatan, jika kondisi langit sedang bagus, dan sinar senja tampak begitu indah, saya mengeluarkan motor dan menyempatkan diri untuk mencari spot yang bagus, mengejar senja..

Fly over Janti sering jadi tempat yang strategis. Sayang trafficnya terlalu cepat dan ramai. Ambience nya kurang dapet.

Sebenernya dari atas gedung Mahera Coffee itu enak banget buat liat senja, sayang kafenya tutup, sekarang ganti salon atau entah apa.

Atau dari stadion Maguwo, itu juga sepertinya strategis. Sayang katanya kalo hari biasa ga dibolehin masuk. Padahal punya cita-cita suatu hari motret sunset atau sunrise sama Mpek disitu. Sepertinya bakal susah terlaksana.

Pernah satu hari senjanya bagus banget, langitnya percampuran antara kuning, oranye, pink, ungu, dan biru tua. Langit kaya kebelah jadi 2 dan Jogja ada di tengah-tengahnya. Sebelah barat matahari masih tampak, sebelah timur sudah gelap, bintang dan bulan kelihatan. Mungkin itu senja terindah dalam hidup saya.

Sekarang udah ga pernah ngeluarin motor, tapi kadang masih suka mengejar senja. Walau kali ini ‘kendaraan’ saya berupa batang-batang besi yang mirip jemuran anduk. Pernah sekali waktu keluar ke halaman rumah, trus mama bilang,

“kamu tu, udah mau magrib, yang lain pada masuk, kamunya malah keluar..”

“abis, itunya juga keluarnya pas udah mau magrib sih..”, sambil nunjuk ke arah langit yang semburat jingga keemasan..

Death, and The Beauty of It

Image

 

Suatu siang yang panas, saya sedang berbelanja kain di daerah Giwangan, Karena sinar matahari yang menyengat dan situasi di dalam toko kain sangat pengap dan antrian masih panjang, saya memutuskan untuk keluar dan membeli minuman. Sebotol air mineral dingin dan sebatang rokok mungkin bisa mengendurkan otot-otot saya yang tegang, pikir saya.

Ketika saya akan kembali masuk ke toko kain, ada sesuatu yang mencuri perhatian saya. 3 orang turis asing yang bersepeda yang melintas mendadak berhenti dan kemudian membicarakan sesuatu. Dari apa yang tampak, mereka sepertinya tertarik dengan kuburan yang terletak di samping toko kain. Beberapa warga lokal sempat mendekat, dan mencoba untuk berkomunikasi, tapi bahasa Inggris mereka kurang begitu baik sehingga si turis tampak kebingungan. Saya pun memberanikan diri untuk berkomunikasi. Saya memperkenalkan diri, dan mencoba menawarkan bantuan. Dari pebincangan singkat, saya jadi tau kalau mereka berasal dari negara yang berbeda, 1 orang laki-laki berasal dari Argentina, 1 orang wanita berasal dari Jerman, dan 1 wanita lain berasal dari Belanda, dan seperti dugaan saya, mereka tertarik dengan kuburan.

Perbincangan selanjutnya diisi dengan pertanyaan-pertanyaan mengenai kuburan. Bagaimana cara orang Jawa memperlakukan orang mati, mengapa batu nisan terbuat dari batu/ kayu, dan apa saja yang tertulis di batu nisan. Saya mencoba menjawab sebisanya.

Di akhir perbincangan, saya memberanikan diri bertanya mengenai alasan mereka tertarik dengan kuburan. Sebuah pertanyaan yang memang mengganggu pikiran saya sejak awal tadi. Dan saya mendapatkan sebuah jawaban yang menarik.

“Kematian adalah sesuatu yang indah, ia merupakan bagian dari kehidupan, sama halnya seperti menikah dan proses hidup lainnya, dan mengetahui bagaimana cara orang-orang di berbagai belahan dunia menyikapinya, itu sesuatu yang menarik buatku.”.

Sebuah jawaban yang tidak pernah terpikirkan oleh saya sebelumnya.

Si Pria Argentina yang saya lupa namanya siapa kemudian bercerita mengenai cara orang-orang di negaranya memperlakukan orang mati, ia bercerita tentang lemari besar, dan rak yang bertumpuk-tumpuk, sesuatu yang tidak begitu saya mengerti saat itu. Setelah selesai, mereka bertiga mengucapkan terimakasih, bertanya ke mana arah ke Prawirotaman, lalu berpamitan. Saya pun kembali melanjutkan niat saya untuk membeli kain.

Kejadian itu sudah cukup lama terjadi, tapi apa yang dikatakan Si Pria Argentina ini masih tergiang jelas di ingatan saya. Menganggap kematian sebagai bagian dari kehidupan tidak pernah terpikir oleh saya, dan mungkin oleh sebagian besar orang lain. Kematian sering disikapi sebagai sesuatu yang mengakhiri kehidupan, tapi kadang kita lupa bahwa ia juga merupakan bagian dari kehidupan ini.

Adalah seniman Sudjiwotejo yang kembali mengingatkan saya akan hal ini. Dalam sebuah kultwitnya, Sudjiwotejo bercerita mengenai pentingnya kita mempersiapkan kematian. Baginya, kematian itu tak kalah pentingnya dengan pernikahan, ia sama pentingnya dan harus dipersiapkan dengan cara yang sama seriusnya, bahkan lebih serius seharusnya. Jika dalam pernikahan kita sibuk mempersiapkan baju khusus seragam keluarga, maka, untuk kematian pun perlu disiapkan baju khusus. Begitu beliau memberi contoh. Sampai titik ini, saya masih hanya bisa terhenyak, tanpa bisa sepenuhnya mengerti akan artinya.

Masih segar dalam ingatan kita, beberapa waktu yang lalu kita dikejutkan oleh berita meninggalnya ustadz Jefri atau yang biasa kita kenal dengan Uje. Sebuah berita yang spesial buat saya, karena pagi itu Uje mengingatkan saya, dan seluruh warga Indonesia, bahwa kematian itu bisa menemui kita kapan saja, dimana saja. Tak peduli siapapun kita, setampan, sekaya, atau seberiman apapun kita, bila waktunya telah tiba, maka tidak seorangpun dapat menghindarinya. Sebuah kematian yang indah, karena, dengan kematiannya, Uje seakan mengajak kita merenungi makna kematian.

Kematian diibaratkan seperti ujian dadakan dalam suatu semester, kita tidak pernah tau apakah ia akan muncul di akhir, di tengah, atau bahkan beberapa saat setelah semester dimulai, sehingga siapapun yang mempersiapkan diri sebaik mungkin sejak awal semester mempunyai kesempatan yang lebih baik intuk mendapat nilai yang bagus. Lagi-lagi ini soal persiapan.

Dengan gambaran ini, maka lengkap sudah potongan puzzle mengenai persiapan kematian ini. Gambaran mengenai pentingnya kita mempersiapkan diri akan kematian kini mulai tampak jelas.

Sakit yang saya alami cukup membuat saya sadar, bahwa alur kehidupan tidak bisa kita tebak. Tikungan atau jurang yang curam bisa saja menanti kita di depan, kita tak pernah tau. Sehingga persiapan yang terbaik memang diperlukan, agar kita tak melihat ke arah masa lalu dengan pandangan penuh penyesalan.

Beberapa kali berada di tempat yang saya kira merupakan ujung dari kehidupan, membuat saya sadar, bahwa banyak sekali hal berharga yang salah kita nilai selama di dunia, dan juga menyadarkan saya betapa saya kurang sekali persiapan dalam menyambut kematian. Saya pernah menangis ketakutan ketika mengira kematian sudah berjarak 5 cm dari muka saya, walau kenyataannya Tuhan berkata lain. Saya masih hidup sampai saat ini untuk menceritakan kisah ini. Pengalaman itu menjadi sebuah paradox, dimana saat-saat terburuk saya sekaligus merupakan saat-saat terbaik dalam hidup saya.

Salah satu scene dalam film One Day On Earth menampilkan seorang gadis Argentina yang mengunjungi makam ibunya. Gambaran visual yang di tampilkan membuat saya mengerti seperti apa wujud pemakaman di Argentina. Pemakaman yang berupa lemari dengan rak-rak besar yang diceritakan oleh Si Pria Argentina di awal tadi. Tapi yang tak kalah menarik adalah penuturan yang dikatakan oleh sang gadis.

“Karena Ibu saya meninggal ketika saya masih kecil, saya biasa ke kuburan bersama ayah setiap hari Minggu untuk memberi bunga. Itu sudah menjadi sebuah kebiasaan bagi kami. Sekarang setelah saya pikirkan, mungkin terdengar menyedihkan, membawa dua anak kecil memetik bunga untuk diberikan pada ibunya yang sudah meninggal. Tapi pada saat itu, hal ini sangat penting bagi kami, ketika kau selesai mengunjungi kuburan dan kembali kerumah, dan semua orang disana membuat Asado, memasak, dan bermain bersama,kau akan menghargai kehidupan dengan cara yang berbeda. Karena kau sudah melihat bagaimana ini akan berakhir dan sekarang kau memiliki seluruh hidupmu, pada hari yang indah ini, dan ini cara yang baik untuk memulai sebuah minggu yang baru ”

So, semoga apa yang saya tulis mampu membuat kita kembali merenungi tentang makna kematian, kembali mengevaluasi sejauh mana kita telah mempersiapkannya, sehingga mampu membuat kita mengawali sebuah minggu yang baru dengan cara pandang yang berbeda terhadap kehidupan.

Tabik !! 🙂