Senja Di Batas Masa Studi

“Absurd adalah keindahan yang tidak dimiliki semua orang.” -Dadad-

Tulisan di atas saya kutip dari sebuah twit pemilik akun @d_adad. Sebuah pernyataan yang menurut saya sesuai dengan apa yang akan saya tulis kali ini : sebuah absurditas kehidupan di akhir masa studi.

Jika @skripsit menulis lagu tentang skripsi, saya akan menceritakan tentang geng absurd, geng tunapacar, atau apalah namanya. Sekumpulan mahasiswa sejurusan dan seangkatan di salah satu perguruan tinggi di Jogja.

Berbagai warna menghiasi kehidupan Senja Di Batas Masa Studi, mulai ungunya kenangan mantan, pinknya gebetan atau sepikan baru, kuningnya keceriaan saat kumpul, orange nya kesedihan saat kesepian, dan gelapnya pertanyaan akan nasib skripsi. Semuanya melebur menjadi sebuah percampuran yang absurd. Absurd, yak, setidaknya itu yang kami pilih dalam menjelaskan masa ‘Senja’ kami.

Continue reading

Robi Yang Tak Mau Mengeluh

“Rob, Rob, bangun Rob..”, terdengar suara mama yang memecah kesunyian pagi ini..
“Bangun yuk, kita kan harus berangkat pagi-pagi..”, tambah mama, sementara saya masih belum bergeming dari posisi tidur saya yang miring ke kiri.
“ayo, bangun dong sayang, ntar keburu dijemput Om Joni lho..”, mama msh berusaha membangunkan saya. Perlahan, saya pun bangun, mata ini leenngket sekali rasanya. Maklum, td malam saya begadang nglembur tulisan untuk skripsi, jadi baru bs tidur setelah jam 1, dan jam setengah 5 udah dibangunin untuk buru-buru ke rumah sakit.

Ingin sekali mengeluh rasanya, dibangunkan sepagi ini setelah begadang itu rasanya berat sekali, tapi setelah melihat wajah mama, keinginan itu langsung sirna. “Mama pasti bangun jauh lebih pagi dariku..”, pikir saya. Yak, perjuangan dan keikhlasan mama mendampingi saya selama saya sakit memang menjadi salah satu pemberi semangat dan kekuatan tersendiri.

Continue reading

Pantai Natsepa, Kampung Kristen, dan P*ki.

Setelah 2 tulisan saya kemarin berbau curhat, kali ini saya mencoba membuat tulisan berbau petualangan. Sedikit berbagi mengenai
pengalaman saya menjelajah pantai-pantai eksotis di Maluku. Penasaran?? Here we go..

Tahun 2007, ayah saya ditempatkan di wilayah Kodam 16 Patimura, tepatnya di Rindam Belanegara di desa Suli, kecamatan Salahutu,
kabupaten Maluku Tengah.

Desa Suli adalah desa kecil yang asri, berjarak sekitar 20 km dari kota Ambon, yang membuat suasana desa ini tenang dan jauh dari hiruk-pikuk keramaian. Walau merupakan sebuah desa kecil, Suli ini memiliki sebuah objek wisata yang merupakan salah satu primadona wisata di Ambon, yaitu pantai Natsepa.

Continue reading

Cinta Satu Malam

Bukan, tulisan ini bukan membahas soal lagu Malinda yang entah kebetulan atau disengaja mirip dengan lagu Cascade, bukan juga membahas mengenai One Night Stand atau praktek prostitusi para penjaja ‘cinta’ komersial. Tulisan ini berisi cerita tentang pengalaman saya jatuh cinta dan patah hati sekaligus di malam yang sama. Yes, literally Cinta Satu Malam.

Kok bisa??

Berawal dari suatu sore, saya sedang asik memandangi potongan-potongan parts gundam plastik, sebuah hobi yang baru saja saya tekuni. Sambil berkicau di Twitter saya dan adik saya asik merangkai potongan-potongan tersebut.

Continue reading

Bergulat Dengan Masa Lalu, Demi Berdamai Dengan Masa Depan. (The Reason Behind Perjalanan Ke Barat)

“I love you baby
And if it’s quite all right
I miss you baby
To warm the lonely night
I love you baby
Trusting me when i say”

Penggalan lagu Can’t Take My Eyes Off Of You membuka pagi ini. “Jangkrik ! Kenapa alarmnya masih lagu ini sih.”, batin saya sambil sesegera mungkin mematikan alarm. Badan masih pegal karena perjalanan dari Wates semalam, ada selametan 100 hari meninggalnya pakdhe, jadi saya menyempatkan mampir ke Wates, tempat budhe saya tinggal. Sayang saya tidak bisa tinggal sampai acara selesai, “Besok mau ada perjalanan jauh.”, pamit saya pada budhe. Budhe pun mengijinkan saya pulang sambil memberikan bungkusan kresek dan mengantarkan saya sampai ke depan rumah, dan saya pun kembali ke Jogja.

Continue reading